Ina Rachman Pekerja Keras Perempuan Islam Punya Pilihan untuk Berkarir dan Berkontribusi

ina rachman qnet

Ina Rachman Qnet – Banyak kalangan perempuan yang memilih untuk keluar dari karirnya dan fokus untuk mengurus rumah tangga. Sebenarnya, hal tersebut tidak ada masalahnya, tetapi, kerap kali perempuan menggunakan tafsir keagamaan yang dipercayai mengenai perempuan. Dimana isinya kira-kira menempatkan kemuliaan pada sikap taat terhadap suami dan keluarga.

ina rachman qnet

Lantas, bagaimana dengan kiprah perempuan pekerja keras di luar lingkungan rumah serta turut serta dalam tanggung jawab sosial, budaya, ekonomi, dan juga politik? Banyak perempuan yang membagikan pada linimasa media sosialnya mengenai perempuan tersebut yang tidak sekadar menjadi bukan prioritas. Bahkan, justru diharamkan.

ina rachman qnet

Hal ini justru berbanding terbalik dengan Ina Herawati Rachman SH, MH. Yang mana perempuan pekerja keras ini justru mendukung sepenuhnya pada perempuan untuk lebih mandiri. Pasalnya, perempuan memiliki kapasitas yang sama untuk bisa sukses dan berkontribusi pada berbagai lini kehidupan.

ina rachman qnet

Menurut lawyer yang merupakan owner firma hukum Ina Rachman – Mulyaharja & Associates ini, perempuan akan lebih dihargai apabila dapat mandiri secara finansial. Perempuan yang dapat menjadi pekerja keras juga mendapatkan banyak keuntungan untuk dirinya sendiri maupun keluarga.

ina rachman qnet

Peluang Kerja untuk Para Perempuan

Diantara tafsir ayat yang memvalidasi tentang apa yang boleh dan dilarang bagi perempuan tidak hanya dibagikan satu atau beberapa saja melainkan banyak sekali. Bahkan, beberapa diantaranya mengambil keputusan yang sama yakni keluar dari pekerjaan dan kemudian mengkampanyekan ayat Alquran dan Hadis mengenai kemuliaan perempuan pada media sosial.

Namun, sebenarnya, kampanye ayat serta tafsir yang konservatif ini tidak begitu berkorelasi dengan realitas perempuan yang benar. Banyak orang yang dibesarkan oleh ibu yang pekerja keras.

Bahkan, penghasilan perempuan mengungguli penghasilan dari laki-laki. Produktivitas dari perempuan mempunyai nilai tersendiri yang mana nilai ini merupakan hal yang utuh bukan dalam bobot bantuan.

Banyak ustadz yang melakukan ceramah pada laki-laki dengan mengingatkan bahwa suami perlu berhati-hati pada istrinya yang terlalu banyak bekerja di luar. Banyaknya penghasilan dari perempuan adalah sumber kekacauan dan tidak berkah. Hal ini terdengar tidak relate.

Saat ini, dunia dalam keadaan yang sadar serta peduli dengan nilai kesetaraan, keadilan, supremasi hukum, diskriminasi, dan juga inklusifitas keberagaman serta mampu mempersembahkan perempuan sebagai pemimpin.

Menjadi Perempuan Islam Berpikiran Maju

Banyak perempuan pekerja keras yang memimpin lembaga maupun proyek berlevel nasional atau internasional. Yang mana perempuan tersebut adalah istri yang mana pasangannya bangga padanya. Serta perempuan dari ibu yang mana anak-anak mencintainya. Pun, perempuan dari anak orang tua yang sepenuhnya mendukung ambisinya.

Hal ini bisa dilihat pada diri Ina Rachman. Kesuksesan dalam karirnya penuh dengan dukungan suami dan anak-anak. Bahkan, ibu tiga anak ini dapat lebih banyak memberikan kontribusi di bidang hukum.

Perempuan pun dapat menjadi pemimpin untuk lembaga termasuk juga di bidang hukum. Ina memang pekerja keras. Bahkan, ia sangat multitasking. Bahkan, dalam sekali waktu, ia bisa memegang jabatan hingga lebih dari sembilan posisi penting.

Bukan karena keterpaksaan, melainkan karena perempuan juga mampu untuk bisa menjadi panutan dan teladan. Bahkan, membawahi para laki-laki sekalipun.

Sehingga, anggapan bahwa perempuan bekerja membuat keluarga menjadi tidak terurus seakan menjadi seruan yang salah zaman. Hari ini, slogannya adalah mengurus keluarga merupakan sebuah kerjasama. Baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Mendidik seorang anak merupakan tugas yang dapat dilakukan bersama. Bahkan, kebijakan di ruang publik merupakan tanggung jawab untuk laki-laki maupun perempuan. Apabila keluarga tidak terurus, maka antara laki-laki dan perempuan harus kembali melakukan sinergi serta koreksi bersama.

Dalam perjalanan menjadi religius, seharusnya membawa pada kemajuan sebagai perempuan tanpa harus hidup mundur berabad silam. Perempuan hanya dibicarakan dalam koridor halal-haram tanpa boleh mempertanyakan mengapa jawaban produk hukum semacam itu.

Padahal, sejatinya, perempuan berhak bertanya mengenai kondisi sosial yang membatasi sekian banyak hal pada ekspresi kemanusiaan dari perempuan.

Sudah saatnya perempuan Islam seperti Ina Rachman. Meski ia istiqomah menjalankan kewajiban sebagai muslimah, tetapi ia tetap menjadi pekerja keras yang berpikiran maju serta mengekspresikan diri dengan merdeka. Tak heran, jika ia mendapatkan penghargaan sebagai best women leader pada anugerah Indonesia Best of The Best  tahun 2020 ini.

Share

You may also like